jump to navigation

Kiat Mencetak Anak Sukses Mei 2, 2008

Posted by pendidikankeluarga in Pendidikan Anak.
Tags:
trackback

Orangtua bisa mempersiapkan ‘perjuangan’ anak merengkuh masa depannya secara sistematis.

Anak yang sukses tentu akan membuat orangtua bangga. Martabat keluarga pun terangkat dengan keberhasilan anak di kehidupannya. Sudahkah Anda mempersiapkan kesuksesannya sejak dini? Sukses anak di kehidupannya mendatang memang bisa dipersiapkan sejak ia masih kecil. Tetapi, itu membutuhkan persiapan yang sangat matang. Siap melakukannya?

Jika Anda tak tahu cara memulainya, Ayah Edy siap membukakan jalannya. Dia adalah praktisi pendidikan berbasis multiple intellegence dan holistic learning. Berikut kiatnya:

* Usia belia
Rentang usia ini berkisar antara lima hingga 12 tahun. Di masa ini, Anda harus jeli memantau proses trial class anak. ”Di usia 12 tahun, Anda harus memiliki laporan hasil analisis menyangkut keunggulan anak,” kata Ayah Edy yang bernama asli Edy Wiyono.

Selagi anak berada dalam periode trial class, cobalah untuk memerhatikan belahan otak mana yang lebih dominan dipakai anak. Cermati juga, apakah ia tipe pekerja, wirausahawan, atau pemimpin. ”Itu bisa terlihat dari kesehariannya,” ungkap lelaki yang menggeluti profesi sebagai parenting consultant ini.

Sederhananya, manfaatkan petunjuk profil kepribadian yang diberikan anak. Misalnya, tangisnya yang keras dan sulit reda menandakan ia anak yang keras dan bertekad kuat. Contoh lain, kebiasaannya mengajukan syarat ketika diajak mandi mungkin saja tipe negosiator. ”Anak yang sulit diajak membaca juga menyiratkan suatu petunjuk tentang kemungkinan pekerjaan yang kelak dilakoninya,” ucap Ayah Edy dalam seminar sehari di Hotel Ciputra, Jakarta, belum lama ini.

Kisah Andika, sebut saja begitu, mungkin dapat membantu Anda lebih memahami konsep ini. Sehari-hari, Andika yang lebih memakai otak kirinya, gemar sekali hitung-menghitung. Bujang berusia sembilan tahun itu pintar matematika dan paham benar cara menghitung bunga kredit perbankan. Ia juga selalu membuat agenda kegiatan harian, termasuk ketika hendak bersenang-senang ke mal dengan kawan-kawannya. Jika diperhatikan lebih jeli, kelakuan Andika tak ada bedanya dengan pebisnis andal. Pebisnis jago kalkulasi. Pebisnis juga memiliki aktivitas yang terjadwal rapi.

* Usia remaja
Masa ini dimulai ketika anak menginjak 13 tahun. Ia akan mengakhiri masa remajanya begitu usianya 19 tahun. ”Pada saat ini, orangtua harus sudah bisa meraba apakah anak mesti masuk ke jalur akademik atau justru lebih baik menempuh jalur nonakademik,” ujar Ayah Edy yang menggenggam gelar master komunikasi dari Southern Connecticut State University, AS. Ketika anak duduk di bangku SMP dan SMA, ia semestinya menjalani pendidikan yang tepat. Kurikulumnya harus dirancang untuk mengasah kompetensi dan mengembangkan keterampilannya.

* Usia dewasa
Begitu anak berulang tahun ke-20, sebentar lagi anak akan masuk ke arena profesional. Ia harus siap terjun berkarier. ”Yang penting untuk dikuasainya sebagai modal dasar adalah bahasa, kemahiran khusus, dan keterampilan hidup di masyarakat,” urai Ayah Edy yang lahir di Jakarta, 12 Juni 1969. Tiap anak unik dan tak mungkin dididik dengan cara seragam. Tidak semuanya ‘tahan’ menimba ilmu di sekolah formal. ”Jangan paksakan ia menjalani apa yang tidak disukainya,” saran Ayah Edy.

Dalam mendidik anak, orang tua hendaknya memposisikan diri sebagai fasilitator. Andaikan bakat dan minatnya memang ada di bidang non formal, beri ia dukungan. Siapa tahu, dengan sekolah musik, lukis, tenis, catur, renang, atau sepak bola, ia justru akan menemukan kesuksesannya. Dunia masa depan menginginkan orang-orang yang memiliki spesialisasi. Anak Anda tidak bisa bertahan hidup sebagai seorang yang sedikit tahu ini dan sedikit mahir di bidang itu. ”Ia harus unggul di bidang tertentu,” tegas Ayah Edy yang sempat menjadi head consultant di berbagai perusahaan dalam dan luar negeri. Sepakat?

Komentar»

No comments yet — be the first.